resep masakan

ubud villa

anjingdijual

mesin hotel di puncak
*

Author Topic: Koperasi: Struktur Pengendalian Intern untuk Koperasi  (Read 2840 times)

Offline Johanis

  • Hero Member
  • *****
  • Posts: 1.036
    • View Profile
    • Pusat Studi Cellular Automata
Koperasi: Struktur Pengendalian Intern untuk Koperasi
« on: January 05, 2010, 10:41:52 am »
Struktur Pengendalian Intern untuk Koperasi

A. Pengertian

1.    Sebelum tahun 1980

Sistem pengendalian intern merupakan rencana organisasi dan semua sistem, prosedur dan ketentuan yang terkoordinasi, yang dianut oleh suatu koperasi, untuk menjamin harta koperasi, keakuratan data akuntansi, mendorong peningkatan efisiensi dan efektivitas, serta mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Inti dari SPI ada dua yaitu kendali administratif dan kendali akuntansi.

2.    Tahun 1980

Struktur pengendalian intern merupakan kebijakan dan prosedur yang dijalankan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian tujuan; keandalan informasi laporan keuangan, kepatuhan terhadap PERPU, serta efektivitas dan efisiensi.

Inti dari SPI ada lima yaitu lingkungan pengendalian, penaksiran risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.

3.    Abad 21

Pengendalian intern merupakan suatu proses yang dijalankan oleh pengawas, pengurus, dan karyawan, yang didesain untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian tujuan; keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi, serta kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Inti dari SPI ada lima yaitu lingkungan pengendalian, penaksiran risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan.

Menurut Theodorus M. Tuanakotta sistem pengendalian intern meliputi rencana organisasi serta semua metode dan ketentuan-ketentuan yang terkoordinir yang diatur dalam perusahaan untuk melindungi harta miliknya, memeriksa kecermatan dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijaksanaan perusahaan yang telah digariskan.

Intinya harus ada struktur organisasi (bagan dan uraian tugas), metode-metode, mekanisme/prosedur (kalau perlu dilengkapi flowchart), dan aturan tertulis yang dilengkapi sanksi-sanksi (upaya pemaksa).

B. Konsep Dasar Pengendalian Intern

1.    Pengendalian intern merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan tertentu.

2.    Pengendalian intern dijalankan oleh orang.

3.    Pengendalian intern diharapkan hanya dapat memberikan keyakinan yang memadai.

4.    Pengendalian intern ditujukan untuk mencapai tiga hal yang saling terkait:

a)    keandalan pelaporan keuangan,

b)   kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, dan

c)    efektivitas dan efisiensi operasi.

C. Tujuan Pengendalian Intern

1.    Keandalan informasi dalam pelaporan keuangan.

2.    Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

3.    Peningkatan efektivitas dan efisiensi.

D. Perlunya SPI bagi Koperasi

Sebagai organisasi di bidang ekonomi dan sosial, koperasi sangat rawan terhadap risiko kerugian. Kerawanan tersebut dapat bersumber dari unsur intern maupun ekstern.

1.    Unsur-unsur intern.

a)    Adanya sifat manusia yang curang, ambisi, malas, ceroboh, mau menang sendiri, dan sekongkol.

b)   Organisasi melibatkan banyak orang yang mempunyai karakter yang berbeda; otoriter, demokratis, independen, dan sebagainya.

c)    Harta kekayaan koperasi relatif besar nilainya sehingga perlu diamankan.

d)   Kegiatan usaha koperasi semakin kompleks sehingga perlu diatur prosedur, pelaksanaan, dan otoritasnya secara baik.

2.    Unsur-unsur ekstern

a)    Adanya pihak-pihak atau oknum yang kurang menyukai kegiatan usaha koperasi karena persaingan atau faktor-faktor lain.

b)   Adanya kecenderungan dari oknum anggota koperasi yang ingin mendahulukan kepentingannya antara lain dengan cara:

memanfaatkan celah-celah aturan yang lemah,

memanfaatkan kelemahan kepemimpinan koperasi,

memanfaatkan kelemahan manajemen koperasi.

Perlu diketahui bahwa dalam penyusunan SPI sebaiknya dibuat dalam bentuk tertulis berupa Surat Keputusan (SK) dimana keabsahannya harus diputuskan oleh pihak yang berwenang. Dalam kehidupan koperasi pihak berwenang yang paling tinggi adalah Rapat Anggota (RA), kemudian pengurus dan pengawas serta manajer atau kepala-kepala unit. Dalam pengesahan SK perlu diperhatikan segi kerumitan, bobot masalah, dan biaya sehingga tidak semua SK harus disahkan oleh RA.

SPI perlu dibuat secara tertulis sebab ada adagium: tidak ada kesalahan, tidak ada sanksi, tanpa adanya suatu peraturan yang mendahului, harus ada kata sepakat dari orang yang berwenang, dalam hal ini dapat diputuskan oleh rapat anggota, pengurus, pengawas, atau pejabat yang ditunjuk. Harus ada causa yang halal dalam arti tidak melanggar aturan yang ada dan dilandasi oleh iktikad yang baik serta kepantasan/kepatutan.

E. Penangung Jawab Implementasi SPI

Penanggung jawab implementasi SPI adalah seluruh stakeholder yaitu: anggota, pengawas, pengurus, manajer, dan karyawan.

Pengawas bertanggung jawab menganalisis dan memastikan apakah pengurus termasuk manajer telah memenuhi tanggung jawab mereka dalam mengembangkan dan mengimplementasikan pengendalian intern di koperasinya.

Pengawas berkewajiban memberikan rekomendasi pemenuhan tanggung jawab sebagaimana mestinya kepada pengurus/manajer apabila mereka tidak memenuhi tanggung jawabnya.

F. Manfaat dan Lingkup SPI

1.    Manfaat SPI

a)    Mengamankan harta kekayaan koperasi sekaligus mencegah kebocoran.

b)   Meningkatkan efektivitas dan efisiensi koperasi.

c)    Meningkatkan kepastian hukum dalam aturan main mekanisme koperasi.

d)   Sebagai instrumen audit untuk memudahkan penelusuran jika terjadi pelanggaran.

2.    Lingkup SPI

Lingkup SPI dibagi dua bidang sebagai berikut:

a)    SPI manajemen.

Tujuannya untuk memastikan apakah pelaksana mentaati semua prosedur yang ada dengan benar dan apakah prosedur yang ada telah menjamin efisiensi. Sasarannya adalah:

Tepat prosedur, dapat dinilai dari kecepatan menyelesaikan pekerjaan dengan biaya yang lebih murah.

Tepat pelaksana, berpengetahuan dan terampil, dapat dinilai dari tingkat kerajinan, ketelitian/kesalahan, dan volume pekerjaan yang diselesaikan.

Tepat otoritas, pemisahan wewenang, delegasi, tanggung jawab, dapat dinilai dari tingkat kepemimpinan, tanggung jawab terhadap pekerjaannya maupun pekerjaan bawahannya.

b)   SPI akuntansi.

Tujuannya untuk memastikan apakah semua transaksi telah dicatat dengan benar sesuai Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).

Sasarannya: tepat prosedur, tepat jumlah/nilai, tepat waktu, tepat pencatatan, dan tepat otoritas.

G. Prinsip-prinsip SPI

1.    Perencanaan organisasi yang baik.

2.    Penetapan tanggung jawab perseorangan.

3.    Sistem otorisasi dan prosedur akuntansi.

4.    Praktik yang sehat

5.    Pegawai yang cakap dan penempatan yang tepat.

6.    Pengawasan oleh atasan.

7.    Penciptaan situasi dan kondisi kerja yang kondusif/positif.

H. Unsur-unsur SPI

1.    Ketentuan syarat-syarat prosedur yang harus dipenuhi, pelaksanaan dan kejelasannya.

2.    Pelaksana dan persyaratan menduduki jabatan.

3.    Uraian tugas/pemisahan tugas masing-masing jabatan.

4.    Otoritas dan pendelegasiannya.

5.    Adanya sanksi-sanksi jika terjadi pelanggaran.

I. Aktivitas SPI

1.    SPI kas

Menjamin kepastian terhadap:

a)    Semua penerimaan yang dicatat benar-benar telah diterima uangnya.

b)   Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan benar-benar untuk pembelian barang/jasa yang telah dilakukan dan untuk pembayaran beban-beban operasi yang semestinya harus dikeluarkan.

c)    Penerimaan dan pengeluaran dicatat dalam periode yang tepat.

d)   Saldo kas benar-benar menunjukkan saldo kas yang semestinya.

e)    Saldo kas telah disimpan secara aman.

2.    SPI penjualan dan piutang usaha

Menjamin kepastian terhadap:

a)    Semua penjualan telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.

b)   Penjualan yang terjadi telah dibebani harga yang seharusnya dibebankan.

c)    Semua penjualan dan piutang yang terjadi telah dicatat.

d)   Semua piutang yang diterima telah dicatat.

e)    Saldo piutang pada laporan keuangan konsisten dengan buku pembantu piutang.

f)    Piutang yang disajikan dalam laporan keuangan telah dinilai dengan wajar.

3.    SPI pinjaman yang diberikan

Menjamin kepastian terhadap:

a)    Pinjaman yang diberikan benar-benar diberikan kepada anggota atau peminjam yang tepat dan membutuhkan.

b)   Jumlah pinjaman yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peminjam untuk mengembalikan.

c)    Semua pinjaman yang diberikan diotorisasi dan dicatat.

4.    SPI simpanan anggota

Menjamin kepastian terhadap:

a)    Semua simpanan dan penarikan telah dibukukan.

b)   Semua simpanan yang diterima telah dibukukan dengan jumlah yang semestinya.

c)    Semua penarikan simpanan telah dibukukan dengan jumlah yang semestinya.

d)   Jumlah simpanan yang dicatat pada buku besar konsisten dengan jumlah yang dicatat pada buku besar pembantu simpanan.

e)    Beban atas simpanan telah dihitung dan dibebankan sebagai beban tahun berjalan dengan jumlah yang tepat.

5.    SPI pembelian dan utang usaha

Menjamin kepastian terhadap:

a)    Barang yang dibeli adalah barang yang benar-benar dibutuhkan anggota atau layak pasar.

b)   Jumlah barang yang dibeli sesuai kebutuhan dengan kualitas yang memenuhi standar sesuai yang diinginkan.

c)    Harga pembelian kompetitif.

d)   Semua utang yang terjadi sah dan telah dicatat dengan benar.

e)    Barang-barang yang ada tersimpan dengan aman dan bebas dari berbagai risiko.

f)    Semua utang dapat dibayar tepat pada waktunya.

g)   Catatan utang dan persediaan barang harus konsisten dengan catatan buku besar pembantu utang dan persediaan.

6.    SPI aktiva tetap

Menjamin kepastian terhadap:

a)    Semua aktiva tetap dibeli sesuai kebutuhan.

b)   Semua aktiva tetap telah tercatat dengan tepat dan benar.

c)    Semua aktiva tetap yang diperoleh dinilai dengan semestinya.

d)   Penyusutan atas aktiva tetap menggunakan metode yang rasional.

e)    Semua aktiva tetap digunakan sesuai dengan penggunaannya agar dicapai efektivitas dan efisiensi.

f)    Semua aktiva tetap terpelihara dengan aman.

g)   Aktiva tetap yang dihapuskan benar-benar yang tidak bermanfaat.

J. Temukenali Titik Kerawanan dalam Organisasi Koperasi

Dengan cara pendekatan pada fungsi organisasi pada umumnya, kita akan lebih mudah menemukan titik kerawanan. Setiap organisasi terbagi dalam fungsi-fungsi sebagai berikut:
1.    Interprices: fungsi berdagang, mendapatkan keuntungan, dan unit-unit pencari laba seperti USIPA, pertokoan/pemasaran, dan produksi/pengolahan.
2.    Maintenance: fungsi pemeliharaan/perawatan sebagai pendukung fungsi interprices.
3.    Development: fungsi pengembangan dalam rangka mempertahankan keberadaan organisasi atau ekspansi usaha.

Sebagai pemimpin organisasi atau unit kerja pimpinan harus dapat menemukan dan mengenali titik rawan kemungkinan terjadinya pelanggaran atau kejahatan sekaligus kemungkinan modus operasinya. Selanjutnya pimpinan harus menyusun peraturan-peraturan yang dapat mengantisipasi atau mengurangi risiko terjadinya kejahatan atau pelanggaran dalam organisasi yang dipimpinnya.

Sumber: Wijono,  Struktur Pengendalian Intern untuk Koperasi, disampaikan dalam Penyuluhan di Kantor Dinas Koperasi Kota Malang, 29 Juli 2004.

 

Welcome, Guest. Please login or register.
September 02, 2014, 08:32:14 am

Login with username, password and session length

Recomended