resep masakan

ubud villa

anjingdijual

mesin hotel di puncak
*

Author Topic: Ekspedisi: Tanah Lot  (Read 2260 times)

Offline Johanis

  • Hero Member
  • *****
  • Posts: 1.035
    • View Profile
    • Pusat Studi Cellular Automata
Ekspedisi: Tanah Lot
« on: January 08, 2010, 07:37:13 am »
Ekspedisi Pointer: (http://um.ac.id) Tanah Lot

Hasil ekspedisi ke Pulau Bali, (http://ksupointer.com) Minggu 19 Juli 2009.

Tanah Lot merupakan lokasi terakhir dalam perjalanan ekspedisi saya ke Pulau Bali. Tanah Lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan Bali, kira-kira 30 kilometer dari Kota Denpasar atau 13 kilometer dari Tabanan. Tempat ini dapat dicapai dengan bus pariwisata, kendaraan pribadi, atau taksi karena angkutan umum masih belum banyak tersedia. Bus dan kendaraan pengunjung diparkir di area yang cukup luas yang berjarak kurang lebih setengah kilometer dari bibir pantai.

Berbeda dengan pantai-pantai lain di Pulau Bali, masuk ke tempat wisata ini akan dikenakan biaya Rp 7.500 untuk wisatawan domestik dan Rp 10.000 untuk wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan objek wisata ini bukan hanya menyediakan pemandangan pantai yang indah terutama untuk menikmati sunset, tetapi beberapa pura terutama Pura Agung Tanah Lot menjadi objek utama pariwisata di tempat ini. Sepanjang jalan menuju pantai atau pura banyak toko-toko yang menjual souvenir, pakaian, makanan, dan minuman. Ada juga hotel atau penginapan yang disediakan untuk pengunjung yang ingin bermalam di tempat ini.

Asal-usul Tanah Lot

Menurut legenda masyarakat Bali, Tanah Lot berasal dari segumpal tanah yang dibawa oleh Putra Patih Gajahmada yang terjatuh di tepi pantai. Diceritakan bahwa Patih Gajahmada dari Kerajaan Majapahit memerintahkan putranya untuk mengembara. Sang Patih memberinya bekal sebuah tempayan yang berisi tanah. Sang Patih berpesan agar putranya menaburkan tanah dalam tempayan tersebut sesampainya ia di sebuah daratan, niscaya tempat tersebut akan menjadi kekuasaannya. Akan tetapi, sebelum sampai ke daratan tempayan tersebut terjatuh dan tanahnya tumpah di tepi pantai. Tanah itulah yang kemudian menjadi Tanah Lot yang artinya tanah di tengah laut.

Tanah Lot berdasarkan cerita yang tertulis dalam Babad Dwijendra Tatwa dibangun oleh pengikut-pengikut Danghyang Nirartha. Danghyang Nirartha adalah seorang brahmana berasal dari Blambangan Jawa Timur yang melakukan perjalanan untuk menyebarkan ajaran Hindu di sebuah pulau yang saat ini kita kenal dengan nama Bali. Perjalanan Danghyang Nirartha akhirnya sampai di sebuah pantai di bagian selatan Pulau Bali. Di tempat ini Danghyang Nirartha menemukan sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah parangan (tanah keras). Di pulau kecil inilah Danghyang Nirartha beristirahat dan melakukan persembahyangan memuja penguasa laut. Danghyang Nirartha merasakan keindahan yang luar biasa di tempat itu sehingga beliau menolak tawaran beberapa nelayan untuk singgah di rumahnya dan tetap bermalam di pulau kecil ini. Di tempat ini Danghyang Nirartha juga memberikan ajaran-ajaran Hindu kepada penduduk setempat dan memberi nasihat agar di pulau kecil tersebut dibangun sebuah parhyangan (pura atau kahyangan), karena menurut getaran batin beliau tempat itu baik untuk memuja Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan. Akhirnya sepeninggal Danghyang Nirartha, di tempat ini dibangun  sebuah tempat pemujaan yang diberi nama Pura Pakendungan atau lebih dikenal dengan nama Pura Tanah Lot. Beberapa meter dari Pura Tanah Lot terdapat tebing-tebing yang di dalamnya hidup ular-ular laut. Ular-ular tersebut konon merupakan penjelmaan selendang Danghyang Nirartha yang bertugas menjaga Pura Tanah Lot. Ular-ular ini dijaga oleh seorang pawang karena ular laut yang berwarna hitam dan berekor pipih seperti ikan ini kabarnya sangat beracun bahkan racunnya lebih dasyat dari ular kobra.

Air Tawar di Pura Tanah Lot

Di bawah Pura Tanah Lot mengalir sebuah sumber air yang rasanya tawar. Memang ajaib, di tepi pantai yang biasanya mempunyai air yang terasa asin, justru muncul sumber air tawar. Konon dengan menggunakan air ini untuk membasuh tangan, muka, atau rambut dapat menjadikan kita awet muda, mendapat kemakmuran, dan kesejahteraan. Ada beberapa petugas yang berpakaian putih-putih berjaga di dekat sumber air ini. Beberapa pengunjung yang terlihat penasaran dipersilahkan untuk mencoba air tawar ini. Saya pun jadi penasaran, saya ambil air tawar tersebut untuk membasuh muka, eh ternyata benar airnya tawar. Saya jadi semakin penasaran, dari mana air itu berasal, saya amati tempat di mana air itu muncul, sungguh kuasa Tuhan yang telah mengalirkan air tawar di tepi laut. Setelah selesai petugas yang berjaga di tempat itu kemudian memercikkan air, menempelkan rendaman beras ke kening, dan memberi saya bunga kamboja putih, ini merupakan kelengkapan dalam melakukan doa karena air dan beras merupakan lambang kehidupan dan kemakmuran.

Beberapa Pura di Tanah Lot

Disamping Pura Agung Tanah Lot ada beberapa pura lain yang dibangun di area ini, seperti: Pura Luhur Penataran, Pura Jero Kandang, Pura Enjung Galuh, Pura Batu Bolong, dan Pura Batu Mejan. Pura Luhur Penataran berada di sebelah kiri gerbang masuk ke pantai, sedangkan beberapa pura lainnya berada di sebelah Barat gerbang masuk. Pura-pura ini dibangun di tepi pantai. Para pengunjung tidak diizinkan masuk ke dalam pura, kecuali mereka yang ingin melakukan sembahyang. Bagi mereka yang ingin melakukan sembahyang diwajibkan memakai pakaian sembahyang.

Pada hari ini pengunjung Tanah Lot sangat ramai, mungkin karena hari Seninnya libur sehingga banyak orang yang memanfaatkan liburannya untuk berkunjung ke Pulau Bali. Air laut sedang surut sehingga mempermudah pengunjung untuk mencapai Pura Tanah Lot. Kebanyakan dari pengunjung terutama pengunjung dari luar pulau hanya mengunjungi Pura Tanah Lot dan bermain di pantai sekitar pura yang tidak berpasir dan penuh dengan batu karang. Mungkin karena waktu berkunjung yang sangat singkat sehingga mereka tidak bisa menikmati seluruh area wisata di Tanah Lot, padahal area wisata di Tanah Lot cukup luas. Di sebelah kanan gerbang masuk terdapat tempat dengan pepohonan rindang yang sangat cocok untuk duduk dan menikmati indahnya laut tanpa sengatan sinar matahari. Di tempat ini ada beberapa karang yang menjorok ke laut sehingga pengunjung bisa melihat laut dari jarak yang lebih dekat. Saya pun tidak bisa terlalu jauh menyusuri tepian Pantai Tanah Lot ini, karena waktu yang disediakan pemandu hanya satu jam saja. Waktu belum jam empat sore, sunset masih jauh, dengan terburu-buru saya tinggalkan Pantai Tanah Lot, karena khawatir teman-teman satu rombongan terlalu lama menunggu.
« Last Edit: January 08, 2010, 10:14:59 am by johanis »

 

Untuk masuk ke forum UPI anda tidak perlu mendaftar, silahkan Login menggunakan akun email UPI (UPImail) Login dengan UPImail

Recomended